Tampilkan postingan dengan label #PesonaiIndonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #PesonaiIndonesia. Tampilkan semua postingan

Gunung Raban Pembatas Wilayah Tapaktuan Bagian Barat dan Timur


Gunung Raban berada di bibir pantai Tapaktuan dan terletak di kompleks perumahan Asrama Kodim 0107, Aceh Selatan. Gunungnya tidaklah terlalu tinggi, hanya bukit kecil tempat pendaratan helikopter untuk mengirimkan bantuan logistik. Dulunya tempat ini bernama Helipad Koptulegi. Namun, sekarang gunung ini dijadikan tempat untuk menikmati keindahan kota Tapaktuan dari atas.

Tentunya Gunung Raban tidak begitu terkenal seperti Puncak Gemilang, tapi gunung ini mempunyai cerita legendaris yang perlu kamu ketahui asal usulnya.

Sebelum membaca tulisan ini, baiknya kamu membaca tulisanku sebelumnya tentang Asal Mula Krueng Sarullah di Tapaktuan. Jadi, kamu bisa lebih nyambung tentang cerita berikutnya. Inilah kisah Gunung Raban sebagai pembatas wilayah Tapaktuan bagian Barat dan Timur.

Kematian Raja Sarullah yang dibunuh oleh anak Kuantan, menimbulkan rasa marah yang luar biasa dari rakyat Tapaktuan. Berbagai macam cacian dan celaan, keluar dari mulut mereka. Lalu muncullah niat untuk memerangi Kampung Kuantan. Berita tersebut akhirnya terdengar oleh Raja Bingkalang dan Raja Jali.

Namun, perang tidak bisa dihentikan lagi. Emosi masyarakat Tapaktuan telah memuncak atas perlakuan anak Kuantan yang tidak pandai balas budi.


Selama sebulan penuh perperangan tidak bisa dihentikan. Ternyata serangan dari kampung Kuantan cukup kuat, hingga memojokkan pihak raja Bingkalang. Terlebihnya lagi, mereka mengajak orang-orang dari kampung Kempar Kiri dan Kempar Kanan untuk menyerang Raja Bingkalang.

Perperangan ini sungguh mengecewakan Raja Bingkalang, karena orang yang beliau tolong malah berkhianat. Air susu dibalas dengan air tuba, begitulah kata-kata yang tepat untuk orang-orang yang ada di Kampung Kuantan.

Kemudian datanglah Tuanku Magek yang berasal dari Kampung Tengah. Beliau tidak terlibat perang dengan kedua kampung tersebut. Sebagai orang yang pernah ditolong oleh Raja Bingkalang, beliau pun ingin membalas budi dengan menawarkan bantuan kepada Raja Bingkalang.

Kemudian beliau menyarankan untuk mengadukan masalah ini kepada Panglima Cek Puteh, karena dia merupakan orang yang ahli mengatur strategi perang dan mempunyai banyak pengalaman perang. Raja Bingkalang pun setuju atas rencana tersebut. Maka pergilah Tuanku Magek menemui Panglima Cek Puteh.

Begitu terkejutnya Panglima Cek Puteh ketika mendengar berita tersebut, raut wajahnya berubah menjadi merah, bahkan beliau menggertakkan geraham dan mengepalkan tangannya sebagai ungkapan rasa kesal dan marahnya kepada orang-orang Kuantan. Beliau berjanji akan segera membantu Raja Bingkalang. Maka dikumpulkanlah semua orang Pasaman yang berada di Sawang Sikulat dan Lhok Bengkuang untuk pergi ke Tapaktuan. Mereka membuat pertahanan dan persiapan perang.


Panglima Cek Puteh membawa banyak orang dari Sawang Sikulat untuk datang ke Tapaktuan, turut juga bersama beliau Tan Nagari. Begitu juga dengan istri Panglima Cek Puteh yaitu Saribanun dan Andan Dewi ikut dalam mengatur strategi perang ini. Tak tinggal pula istri Panglima Tan Nagari yaitu Campago Bulan dan istri Tan Mamangku yaitu Gandum Sarah, ikut juga dalam rombongan mereka.

Pada malam sebelum perperangan dimulai, Raja Bingkalang membakar kemenyan yang disaksikan oleh orang banyak. Disitulah Raja Bingkalang mengucapkan sumpah saktinya di depan Panglima Cek Puteh. Dalam sumpah tersebut diucapkanlah kata-kata yaitu;
“Kalaulah untung pemberian Allah, tertuntut malu dengan sopan, negri Tapaktuan akan dibagi dua, sebagian akan dipulangkan dan sebagiannya lagi tetap berada pada Raja Bingkalang”. Jika Raja Bingkalang mengingkari janjinya, maka bila ke atas tidak berpucuk, bila ke bawah tidak berurat dan di tengah-tengah kelak akan dilarik (dimakan) kumbang. Begitulah janji yang diucapkan oleh Raja Bingkalang di depan semua orang banyak.
Berdasarkan sumpah yang dibuat oleh Raja Bingkalang tersebut, maka negeri Tapaktuan itu dibagi menjadi dua.

Wilayah yang Dipulangkan kepada Panglima Cek Puteh (Foto Ini Diambil Dari Puncak Gunung Raban)
Wilayah yang Tinggal kepada Raja Bingkalang (Foto Ini Diambil Dari Puncak Gunung Raban)
Setelah dibacakan sumpah sakti ini, dibacakan pula doa oleh Taunku Magek. Selesai dibacakan doa, maka bersiaplah mereka semua memerangi Kampung Kuantan, berikutnya Kampung Kempar Kiri dan Kempar Kanan. Serangan yang dilakukan secara tiba-tiba itu tidak banyak mendapat perlawanan dari ketiga kampung tersebut. Pihak Raja Bingkalang memenangkan perperangan.

Orang Kampung Kempar Kiri dan Kempar Kanan yang tersisa melarikan diri ke Samadua, yaitu ke kampung Datok Jala. Sedangkan orang kampung Kuantan pergi ke daerah lain dan tidak pernah kembali lagi ke Tapaktuan. Mereka adalah orang-orang berdosa yang tidak tahu balas guna. Mereka pergi meninggalkan Tapaktuan dan menyebar ke berbagai daerah.

Pantai Kasik Putih di Samadua

Mereka yang lari dari perperangan tersebut kemungkinan besar pergi ke daerah-daerah sepanjang pantai barat selatan Aceh. Makanya sekarang bisa ditemukan daerah-daerah tertentu yang menggunakan bahasa Aneuk Jame selain yang berada di Tapaktuan.

Pembagian Wilayah Tapaktuan

Setelah dua bulan kejadian tersebut, keadaan kembali tenang. Perang saudara pun sudah berakhir, kesepakatan damai sudah disepakati oleh pihak Kuantan. Mereka meminta maaf atas kesalahan yang pernah di perbuat oleh anak Kuantan tersebut. Untuk merayakannya, diadakanlah kenduri oleh Raja Bingkalang yang bertempat di Ujung Raban.

Raja Bingkalang makan sepiring berdua dengan Panglima Cek Puteh. Setelah itu piring tempat makan mereka dibelah menjadi dua, kemudian ditanamkan di tempat diadakannya kenduri tersebut. Inilah dijadikan sebagai pembatas antara ujung Gunung Raban dengan Ujung Seberang Kali.

Berdasarkan sumpah sakti dari Raja Bingkalang saat sebelum perang, mereka menyepakati pembagian daerah sesuai dengan kesepakatan yang mereka buat. Dari Sepadan (batas) Ujung Raban sampai ke Gunung Kerambil termasuk semua harta benda, sawah, ladang dan kampung halaman Datok Kalilah dan Datok Jamalah diberikan kepada Panglima Cek Puteh. Beliau tetap tinggal di Tapaktuan, tepatnya di Kampung Hulu sekarang. Foto rumah ini menjadi sejarah dari asal mula Aneuk Jame, namun sekarang tidak berpenghunyi lagi.

Rumah Datuk Radja Amat Djintan, keturunan IX dari Panglima Cek Puteh di Kampung Hulu

Foto tahun 1879 di depan rumah Raja Tapaktuan – Kelurahan Tepi Air – Tapaktuan Sekarang (Foto Dok. T. Laksamana bin Tukoe Fitahroeddin

Sedangkan dari Sepadan (batas) ujung raban sampai ke Tangga Besi, tinggal kepada Raja Bingkalang, beliau menetap tinggal di Lhok Bengkuang. Mereka mendirikan rumah di Lhok Bengkuang, namun sekarang rumah ini tidak dihunyi lagi.
Rumah T. Raja Pakeh, Keturunan Raja Bingkalang Di Lhok Bengkuang
Kemudian karena kebaikan hati dari Panglima Cek Puteh, beliau memberikan kepada Tan Nagari dan Tan Mamangku daerah perkampungan dari Sawang Lhok Bengkuang sampai ke Kuala Sarullah. Mereka mulailah membentuk adat dan kebudayaan yang berlaku di daerah setempat. Sedangkan bahasa yang digunakan tetap bahasa Minang yang merupakan bahasa dari kampung asal mereka.

Begitulah asal usul Gunung Raban yang menjadi pembatas wilayah Tapaktuan tersebut. Aku mendapatkan cerita ini dari Teuku Laksamana Bin Teukoe Fitaruddin, anak keturunan raja Tapak To’en yang ke-11.

Berikut video saat aku mengunjungi Gunung Raban.


Ilustrasi gambar : Sabilir Rasyad
Narasumber cerita : Teuku Laksamana

Asal Mula Nama Jembatan Krueng Sarullah Tapaktuan, Aceh Selatan


PKA-7 Sebentar Lagi, Apa Saja yang Dipamerkan?

 Pekan Kebudayaan Aceh

Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) tidak lama lagi akan dilangsungkan kembali. Setelah empat tahun lamanya menanti, acara ini akan diadakan pada bulan Agustus 2018.

Berbagai persiapan telah dilakukan, bahkan semenjak tahun 2016 modul panduan PKA-7 sudah selesai dirancang. Walaupun seiring berjalannya waktu banyak perubahan demi perubahan yang dilakukan demi kesempurnaan perhelatan besar itu.

Indahnya Kampung Arab di Palembang

Wisatawan Lokal yang sedang Menikmati Kopi Asli Al-Munawwar
Sumber Foto : www.yellsaints.com 
Kampung Arab?” tanyaku kepada panitia acara dengan terheran-heran.

Di Palembang ada kampung Arab, asyik kami akan di bawa jalan-jalan ke sana. Aku begitu girangnya ketika mendengar kabar baik itu. 

Sebagai pendatang baru yang jauh-jauh dari Aceh, tentu aku mau saja diajak kemana pun menelusuri kota yang terkenal dengan makanan pempek ini. 

Setelah mengikuti acara seromonial Pembentukan Generasi Pesona Indonesia (Genpi) Palembang, kami pun bertolak menuju tempat-tempat wisata yang sudah dijadwalkan panitia. 


Mulanya kami mengunjungi rumah Al-Quran Besar di Jl. Moh. Amin, Gundus Kota Palembang. Setelah puas menelusuri setiap lembaran Al-Quran yang berukuran 177 x 140 cm itu, kami pun dibawa ke kampung Arab yang terletak di tepian Sungai Musi. Tepatnya berada di Kecamatan Seberang Ulu II, Palembang. 

Sepanjang jalan aku membayangkan pasti kampung itu dipenuhi orang-orang Arab. Gimana nanti berkomunikasi dengan mereka ya? Tanyaku dalam hati. Sopir yang mengendarai mobil kami seolah tahu apa yang sedang aku pikirkan. 

Dia menjelaskan sekilas tentang kampung yang telah lama ada sejak ratusan tahun lalu itu. Mereka yang sekarang tinggal di sana ialah keturunan Arab, tapi sudah berkebangsaan Indonesia karena sudah lama menetap dan sudah menjadi Warga Negara Indonesia. 

Meskipun ada beberapa Budaya Arab yang masih mereka pertahankan, bahasa yang digunakan bukan Bahasa Arab sepenuhnya, tapi juga menggunakan Bahasa Wong Kito yaitu Bahasa Palembang. 
Wajah Anak - Anak yang tinggal di Kampung Arab, mirip Orang Arab karena Keturunannya.
Sumber Foto : www.yellsaints.com 
Hal yang sangat kontras terlihat dari mereka ialah bentuk wajah yang menyerupai orang timur tengah. Hidungnya mancung, berkulit putih, dan pigment matanya yang indah berwarna coklat. Kalau menurutku mereka tergolong manusia cantik dan ganteng perpaduan Arab-Indonesia. 

Bangunan Madrasah Ibtidauyah (MI) Al - Kautsar di Kampung Arab yang berwarna Campura Biru Putih
Sumber Foto : www.yellsaints.com 
Begitu juga dengan bentuk rumah yang mereka diami, cukup unik menurutku. Rumah limas berdinding kayu dengan corak warna dominannya biru, putih, coklat atau merah jambu memperindah kampung arab ini. 
Beberapa Bentuk Rumah yang Sangat Unik di Kampung Arab
Sumber Foto : www.yellsaints.paris
Diantara rumah tersebut ada yang usianya lebih dari seratus tahun dan bentuknya masih tetap sama sejak ratusan tahun silam. Wow banget kan? 

Ketika kakiku melangkah turun dari mobil, mulutku ternga-nga, mataku tertuju pada deretan rumah limas di depanku. Di samping jalan setapak yang aku lalui terdapat kursi panjang dari kayu sebagai tempat bersantai dan duduk-duduk.
Kursi yang terbuat dari Kayu Cat Warna Coklat, tempat duduk santai menikmati bersihnya jalannya
Sumber Foto : www.yellsaints.com
Sepanjang jalan itu tidak ada satu sampah pun yang terlihat olehku. Begitu bersih dan rapi, apalagi diperindah dengan bunga yang dipajang di samping tempat duduk tersebut. 

Kampung ini seperti setingan film-film yang ada di sinetron, begitu ramah dan bersahabat. Lalu aku disambut oleh laki-laki tua yang berperan sabagai pemandu rombongan kami. 

Dia secara sukarela mau menjelaskan setiap sudut tempat yang ada di kampung itu. Dia juga terbuka dengan pertanyaan apa pun untuk menjawab rasa penasaran kami. Seperti Pemandu Wisata Profesional, dia menjalaskan tugasnya dengan baik. Padahal dia hanya warga kampung yang dilatih hanya sekali oleh Dinas Pariwisata setempat sebagai pemandu untuk kampung tersebut. 

Kampung ini bernama Al-Munawwar, karena banyak orang berdarah Arab yang mendiami tempat ini maka disebutlah sebagai Kampung Arab. 

Layaknya kampung, tempat ini dihuni sektitar ratusan Kepala Keluarga. Di sini juga terdapat Kedai yang menjajakan Kue Khas Arab, Kopi dan berbagai pernak pernik seperti kaos, gantungan kunci yang bisa dijadikan sebagai oleh-oleh khas dari Kampung Arab. 
Kedai untuk belanja ole - ole dari Kampung Arab
Sumber Foto : www.yellsaint.com 

Jika terus berjalan menelusuri tempat ini, bagian paling ujungnya terdapat bentangan Sungai Musi yang merupakan sungai terpanjang di Sumatera Selatan. Sebagai pembatasnya dibuatlah pagar besi, supaya kita tetap aman ketika berjalan-jalan di tepi sungai. 

Rumah warga sangat dekat dengan sungai tersebut. Terpikir olehku bagaimana kalau misalnya Air Sungai meluap, pasti rumah mereka terendam dan berpotensi hanyut terbawa arus sungai.

Foto Selfieku yang Membelakangi Sungai Musi dan Menghadap Perumahan Warga Kampung Arab
Sumber Foto : www.yellsaints.com
 
Fotoku Membelakangi Rumah Warga Kampung Arap dan Menghadap ke Sungai Musi
Sumber Foto : www.yellsaints.com 
Bentangan Sungai Musi di Halaman depan Perumahan Warga Kampung Arab

Sumber Foto : www.yellsaints.com 
Tapi menurut penduduk setempat, selama ini tidak pernah ada banjir seperti yang aku bayangkan itu. 

“Kami tidak pernah membuang sampah ke sungai dan selalu menjaganya tetap bersih”, ucap salah satu ibu yang sudah 40 tahun tinggal di tempat itu. 

Hatiku berdecak kagum karena perilaku mereka yang sangat menjaga lingkungan sungai. Benar saja saat kita pandai menjaga alam, bencana pun akan berdamai. Padahal tempat mereka rawan bencana banjir, tapi mereka bisa hidup berdampingan dengan sungai yang sewaktu-waktu bisa saja meluap dan mengambil semua milik mereka.
Aktivitas Anak - Anak yang sedang Bermain Sepatu Roda di Pinggir Sungai Musi
Sumber Foto : www.yellsaints.com